Kue Pepe

Antara OSIS, Basket, dan Cinta (Between Student Council, Basketball, and Love)

Pagi itu aula SMA Cakrawala dipenuhi suara tepuk tangan. Di atas panggung berdiri seorang gadis dengan blazer abu-abu rapi dan rambut hitam yang diikat sederhana. Tatapannya tegas, suaranya jelas.

“Terima kasih atas kepercayaan kalian. Saya, Thalia Kimberly, akan menjalankan amanah sebagai Ketua OSIS dengan sebaik-baiknya.”

Sorak sorai menggema. Thalia tersenyum tipis. Ia terbiasa bersikap profesional, bahkan di usia remaja. Jadwalnya padat mulai dari rapat, program kerja, hingga koordinasi dengan guru. Baginya, sekolah adalah tanggung jawab, bukan sekadar tempat belajar.

Berbeda dengan Thalia, lapangan basket di belakang sekolah adalah kerajaan milik Hansel O’Brien.

“Three point!”

Sorakan kembali menggema, kali ini dari tribun kecil. Hansel mendarat ringan setelah melompat, keringat membasahi dahinya. Tinggi, atletis, dan senyumnya selalu berhasil membuat para siswi berbisik-bisik. Ia adalah bintang basket SMA Cakrawala, kebanggaan sekolah, sekaligus langganan juara antar-SMA.

Dua dunia yang berbeda itu akhirnya bertemu karena satu hal sederhana: jadwal bentrok.

“Latihan basket harus dihentikan jam lima,” ujar Thalia datar di ruang OSIS.

Hansel menyandarkan tubuhnya di kursi, melipat tangan. “Kami lagi persiapan turnamen. Nggak bisa dipercepat atau dimundurin?”

“Tidak. Aula dan lapangan akan dipakai untuk latihan pentas seni.”

Tatapan mereka bertemu. Tegas melawan santai. Api kecil seakan menyala.

Sejak hari itu, perdebatan kecil sering terjadi. Thalia menganggap Hansel terlalu santai dan kurang disiplin. Hansel menganggap Thalia terlalu kaku dan serius.

Namun, entah sejak kapan, Hansel mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Thalia mulai dari cara ia menggigit ujung pulpen saat berpikir, caranya menghela napas panjang ketika lelah, dan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan.

Begitu pula Thalia. Ia mulai menyadari bahwa di balik sikap santai Hansel, ada kerja keras yang tak banyak orang lihat. Hansel sering datang lebih awal ke lapangan dan pulang paling akhir. Ia peduli pada timnya.

Suatu sore, Thalia menemukan Hansel duduk sendirian di tribun, menatap lapangan kosong.

“Kamu kenapa?” tanya Thalia, duduk di sampingnya tanpa sadar.

Hansel tersenyum kecil. “Takut gagal. Turnamen terakhir kami.”

Thalia terdiam sejenak. “Aku juga takut… takut nggak bisa jadi ketua OSIS yang baik.”

Mereka saling menatap, lalu tertawa pelan. Untuk pertama kalinya, tidak ada OSIS atau basket dan hanya dua remaja dengan mimpi dan ketakutan masing-masing.

Hari pertandingan tiba. Di tribun, Thalia berdiri paling depan, bertepuk tangan paling keras saat Hansel mencetak poin penentu kemenangan.

Setelah pertandingan, Hansel menghampirinya.

“Terima kasih sudah percaya sama aku,” katanya.

Thalia tersenyum. “Terima kasih juga sudah ngajarin aku kalau hidup nggak melulu soal aturan.”

Di antara kesibukan OSIS, latihan basket, dan tuntutan masa depan, mereka menemukan satu hal sederhana namun berarti cinta, yang tumbuh diam-diam di sekolah yang sama.

[Bahasa Inggris]
That morning, the auditorium of Cakrawala High School was filled with the sound of applause. On the stage stood a girl in a neat gray blazer, her black hair tied simply. Her gaze was firm, her voice clear.

“Thank you for your trust. I, Thalia Kimberly, will carry out my duties as Student Council President to the best of my abilities.”

Cheering echoed through the room. Thalia gave a small smile. She was used to being professional, even as a teenager. Her schedule was packed—meetings, program planning, and coordination with teachers. To her, school was a responsibility, not just a place to study.

Unlike Thalia, the basketball court behind the school was Hansel O’Brien’s kingdom.

“Three points!”

Cheering erupted again, this time from the small bleachers. Hansel landed lightly after a jump, sweat glistening on his forehead. Tall, athletic, and always wearing a smile that made the girls whisper, he was Cakrawala’s High School basketball star, the pride of the school, and a frequent champion in inter-school tournaments.

Their two worlds collided over a simple scheduling conflict.

“Basketball practice has to stop at five,” Thalia said flatly in the Student Council room.

Hansel leaned back in his chair, arms crossed. “We’re preparing for a tournament. We can’t start earlier or finish later.”

“No. The auditorium and court will be used for the arts performance rehearsal.”

Their eyes met, firmness against ease. A small spark seemed to ignite.

From that day on, small arguments became routine. Thalia thought Hansel was too relaxed and undisciplined. Hansel thought Thalia was too stiff and serious.

Yet, somehow, Hansel began noticing little things about Thalia the way she bit her pen when thinking, how she let out long sighs when tired, and the faint smiles she rarely showed.

Thalia, too, started seeing that behind Hansel’s laid-back demeanor was a work ethic few noticed. He often came to the court early and left last. He cared deeply for his team.

One afternoon, Thalia found Hansel sitting alone in the bleachers, staring at the empty court.

“What’s wrong?” she asked, sitting beside him without thinking.

Hansel gave a small smile. “Afraid of failing. This is our last tournament.”

Thalia was silent for a moment. “I’m scared too… scared I won’t be a good Student Council President.”

They looked at each other, then laughed softly. For the first time, there was no Student Council, no basketball—just two teenagers with their own dreams and fears.

The day of the game arrived. In the stands, Thalia stood at the front, clapping the loudest as Hansel scored the winning point.

After the game, Hansel approached her.

“Thanks for believing in me,” he said.

Thalia smiled. “Thank you too, for teaching me that life isn’t always about following the rules.”

Amid the busy Student Council schedule, basketball practice, and future ambitions, they discovered something simple yet meaningful: love, quietly growing in the same school.

Komentar