Pada bulan Juli akhir sampai Agustus para warga menanam padi, suku Dayak Tunjung menanam padi secara gotong royong, bagi para pria berdiri di depan sambil memegang tugal atau kayu untuk membuat lubang sementara bagi para wanita di belakang memasukkan padi ke dalam lubang sekitar 4 biji padi yang dimasukkan ke dalam lubang tadi. Ladang satu hektar bibit padi tersebut sekitar 3 kaleng minyak goreng dan sebelum memulai menanam padi diadakan acara ritual yaitu dengan cara berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing supaya diberi kelancaran, setelah berdoa diadakan sarapan bersama dengan nasi ketan dan bubur merah putih yang terbuat dari tepung beras setelah sarapan bersama, para warga akan menanam padi dan jam 12 siang adalah jam istirahat atau jam makan siang dimana mereka akan makan siang setelah makan siang para warga istirahat, bagi para perempuan baring sambil mencari kutu, mencari uban dan mengorek kepala secara bergantian setelah istirahat mereka menanam padi sampai selesai, setelah menanam padi mereka makan di sore hari dan berpamitan pulang, waktu berpamitan pulang mereka saling menggosok pipi seseorang yang pulang dengan arang dan kita tidak boleh memarahinya karena sudah kebiasaan turun-temurun yang artinya pekerjaan sudah selesai dan sudah mau pulang artinya sempekat dan sempekat artinya adalah kerjasama, mereka saling terima kasih dan saling menghormati.
Keesokan harinya ada yang menugal dan ada juga yang gotong royong lagi sama seperti kemarin, padi yang sudah tumbuh sekitar dua bulan diadakan acara yaitu merumput secara gotong royong dengan cara tradisi makan yang berbeda yaitu makan nasi dan ada upahan per hari setelah itu padi dekat sudah tinggi dan ada lagi merumput yang kedua secara gotong royong setelah itu padi akan keluar isinya sebelum padi itu keluar padi itu akan hamil atau bahasa Dayak Tunjung di sana bakar waloh yang artinya padi itu akan membesar dan padi masih agak berdiri, setelah tua padinya akan merunduk yang artinya sudah masak, ada lagi gotong royong memotong padi setelah potong padi itu akan simpan dalam sebuah tempat namanya ongkoh yang terbuat dari kulit kayu atau dalam kelencing yang mirip seperti drum.
Kalau mau menjemur padi baru di keluarkan dan padi itu di injak supaya lepas dari tangkainya padi itu di jemur lagi dan di jemur di atas tikar, setelah panas padi itu akan di angkat supaya dapat beras dan tumbuk dalam lesung dan menggunakan alu. Pada jaman dahulu lesung itu terbuat dari ulin dan alu pun terbuat dari ulin, mereka menumbuk secara gotong royong ada sampai 3 orang dalam satu lubang untuk menumbuk dan itulah menghasilkan beras dan ternyata susah mendapatkan beras dan kita tidak boleh boros dengan beras dan nasi karena perjuangan jaman dulu nenek moyang kita sampai sekarang petani juga masih susah untuk mendapatkan beras.
Komentar
Posting Komentar