Tamara Alexandra Putri Wijaya (29), wanita karier dari keluarga elit yang perfeksionis, baru saja menikah dengan Michael Antonio Hariadi (Miko, 30), seorang pengacara muda anak diplomat ternama. Di balik kehidupan rumah tangga mereka yang tampak ideal, tersembunyi perbedaan prinsip besar: Tamara adalah penganut child free, ia percaya kebahagiaan tidak harus diukur dari memiliki anak. Sebaliknya, Miko justru bermimpi menjadi ayah muda yang punya rumah ramai dan anak-anak berlarian setiap pagi.
Setelah menikah, keluarga besar keduanya mulai “menekan halus”: mama Tamara sibuk mencari nama cucu, sementara papa Miko sudah menyiapkan kamar bayi di rumah mereka tanpa seizin Tamara. Miko mencoba membujuk Tamara dengan segala cara mulai dari membuat sarapan romantis bertema “keluarga kecil bahagia”, sampai ikut kelas parenting sendirian demi “menulari semangat jadi orang tua".
Namun, konflik mencapai puncak ketika Tamara akhirnya luluh dan setuju mencoba program IVF demi Miko. Sayangnya, upaya demi upaya gagal. Di balik tawa dan kejadian konyol seperti Miko yang salah beli test pack anjing karena gugup atau Tamara yang pura-pura sibuk rapat supaya tak ikut sesi terapi kesuburan, keduanya perlahan belajar: pernikahan bukan sekadar tentang anak, tapi tentang saling memahami impian dan luka masa lalu.
Di antara drama, tawa, dan air mata, Tamara mulai membuka hati untuk melihat arti “keluarga” dari sisi lain sementara Miko belajar bahwa cinta tidak harus selalu punya dua garis biru.
[Bahasa Inggris]
Tamara Alexandra Putri Wijaya (29), a career-driven woman from an elite, perfectionist family, has just married Michael Antonio Hariadi known as Miko (30) a young lawyer and the son of a renowned diplomat. Behind their seemingly ideal marriage lies a major difference in principles: Tamara firmly believes in a child-free life, convinced that happiness does not have to be measured by having children. In contrast, Miko dreams of becoming a young father, imagining a lively home filled with laughter and children running around every morning.
After the wedding, subtle pressure begins to build from both families. Tamara’s mother busies herself searching for baby names, while Miko’s father has already prepared a nursery in their house without Tamara’s consent. Miko tries every possible way to persuade his wife, from making romantic breakfasts themed around a “happy little family” to attending parenting classes alone, hoping to “pass on the parental spirit.”
The conflict reaches its peak when Tamara finally gives in and agrees to try an IVF program for Miko’s sake. Unfortunately, attempt after attempt ends in failure. Behind the laughter and humorous moments like Miko nervously buying a dog pregnancy test by mistake, or Tamara pretending to be buried in meetings to avoid fertility therapy sessions, they slowly learn that marriage is not merely about having children, but about understanding each other’s dreams and past wounds.
Amid the drama, laughter, and tears, Tamara begins to open her heart to see the meaning of “family” from a different perspective, while Miko learns that love does not always have to come with two blue lines.
Komentar
Posting Komentar