Tod Man Pla

Nada Persaudaraan (Melody of Brotherhood)

SMA Pelita Melati kembali mengirimkan wakilnya untuk pentas seni dan kontes band antar sekolah. Tahun ini, sebuah band baru terbentuk, beranggotakan tujuh siswa kelas 11 dengan latar belakang yang beragam dan mereka tinggal di asrama sekolah Pelita Melati:

Aulia Suryani, gadis Sunda beragama Islam, gitaris yang penuh semangat dan perfeksionis.
Samuel Christian, remaja asal Papua dan dia penganut Kristen Protestan yang piawai memainkan keyboard dan dia merupakan pemain keyboard di gerejanya.
Maria Veronica, siswi penganut Katolik dan dia berasal dari Yogyakarta yang tenang, mengisi posisinya di bass.
Danu Saputra, anak Betawi muslim yang ceria sekaligus pemain drummer energik.
Made Hariadi, pemuda asal Bali beragama Hindu menjadi gitaris kedua yang handal.
William Tanubrata, keturunan Tionghoa dan beragama Buddha, vokalis kedua yang kalem tapi penuh perasaan.
Antonio Simanjuntak (Anton), remaja Batak dan beragama Kristen Protestan, vokalis utama yang berkarakter kuat.

Perbedaan suku, agama, dan ras sempat membuat mereka sulit menyatukan visi. Ego, stereotip, hingga cara pandang yang berbeda kerap memicu pertengkaran. Namun sekolah tidak membiarkan mereka berjalan sendirian.

Hadir lima pelatih, yang juga alumni SMA Pelita Melati sekaligus mantan band sekolah yang dulu pernah merasakan lika-liku yang sama:

Kirana Alicia Gunawan, seorang blogger dan mantan keyboardis, kini ibu muda yang penuh inspirasi.
Patrick Suryadi, suaminya Kirana, mantan vokalis yang kini jadi pemain sepak bola indonesia terkenal.
Valentina Catherine (Valen), mantan drummer yang kini ibu rumah tangga sekaligus istri pengusaha terkenal, selalu jadi penyeimbang.
Rendy Benedict Anderson, pengacara sukses sekaligus mantan basis yang disiplin.
Kevin George Riyadi, aktor populer dan mantan gitaris yang penuh kharisma.

Dengan pengalaman pahit dan manis mereka, para pelatih membimbing generasi baru ini untuk bukan hanya mengasah teknik bermusik, tetapi juga belajar arti kebersamaan, menghargai perbedaan, serta menjaga persahabatan.

Di tengah rivalitas antar sekolah dan tekanan ekspektasi, Aulia dan kawan-kawan harus membuktikan bahwa harmoni sejati bukan hanya tercipta dari alat musik, melainkan dari hati yang mau bersatu.

[Bahasa Inggris]
Pelita Melati High School once again sent its representatives to the annual arts festival and interschool band competition. This year, a brand-new band was formed made up of seven 11th-grade students with diverse backgrounds, all living in the Pelita Melati boarding school:

Aulia Suryani, a Sundanese Muslim girl, an enthusiastic and perfectionist guitarist.
Samuel Christian, a teenager from Papua and a Protestant Christian, a skilled keyboardist who also plays at his church.
Maria Veronica, a calm Catholic student from Yogyakarta, filling the bassist position.
Danu Saputra, a cheerful Betawi Muslim boy and an energetic drummer.
Made Hariadi, a Hindu student from Bali and the band’s skilled second guitarist.
William Tanubrata, a Chinese-Indonesian Buddhist, the gentle yet expressive secondary vocalist.
Antonio Simanjuntak (Anton), a Batak Protestant Christian teen, the main vocalist with a strong character.

Differences in ethnicity, religion, and cultural background initially made it difficult for them to unite their vision. Ego, stereotypes, and contrasting perspectives often triggered conflicts. But the school did not let them struggle alone.

Five coaches stepped in alumni of Pelita Melati High School and former members of the school band, who once faced the exact same challenges:

Kirana Alicia Gunawan, a blogger and former keyboardist, now an inspiring young mother.
Patrick Suryadi, Kirana’s husband, a former vocalist who is now a well-known Indonesian football player.
Valentina Catherine (Valen), a former drummer, now a homemaker and wife of a prominent businessman, always the voice of balance.
Rendy Benedict Anderson, a disciplined lawyer and former bassist.
Kevin George Riyadi, a popular actor and charismatic former guitarist.

With their bittersweet experiences, the coaches guide this new generation not only in sharpening their musical skills but also in learning the meaning of togetherness, appreciating differences, and nurturing friendship.

Amid the rivalry between schools and the pressure of expectations, Aulia and her friends must prove that true harmony is created not only through musical instruments, but through hearts willing to unite.

Komentar