Gabriella Michelle Sanjaya atau disapa Briella, seorang akuntan berusia 29 tahun asal Samarinda yang kini menetap dan bekerja di Jakarta, tak pernah menyangka bahwa keputusannya mengikuti kelas bahasa Prancis akan mengubah hidupnya. Awalnya, kelas itu ia ikuti semata-mata demi kebutuhan pekerjaan. Namun di ruang kelas sederhana itulah, takdir mempertemukannya dengan Jose Martino de Santos Fernandez, arsitek asal Madrid, Spanyol, berusia 32 tahun, yang datang ke Jakarta untuk menyembuhkan patah hati.
Jose baru saja ditinggalkan mantan kekasihnya, seorang perempuan asal Argentina yang memilih menikah dengan pria lain karena tak lagi mencintainya. Kekecewaan itu membuat orang tua Jose khawatir anak lelaki mereka akan selamanya sendiri. Untuk menenangkan diri dan menjauh dari kenangan masa lalu, Jose memutuskan pergi ke Jakarta dan mendaftar kursus bahasa Prancis—bahasa yang dibutuhkannya untuk proyek arsitektur internasional.
Pertemuan pertama Briella dan Jose hanyalah sebatas dua orang asing di kelas yang sama. Mereka mulai berbincang karena tugas kelompok, lalu semakin sering berkomunikasi dalam bahasa Inggris, bahasa yang sama-sama mereka kuasai. Dari percakapan ringan tentang tata bahasa Prancis, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan hangat. Briella dengan sabar mengajarkan Jose bahasa Indonesia, sementara Jose dengan antusias mengenalkan Briella pada bahasa dan budaya Spanyol.
Hari-hari mereka diisi dengan saling belajar bahasa, tertawa karena salah pengucapan, hingga berbagi cerita hidup. Demi Jose, Briella mulai serius mempelajari bahasa Spanyol mulai dari menonton telenovela, berlatih lewat YouTube, dan menggunakan aplikasi bahasa agar bisa lebih dekat dengan dunia Jose. Tanpa disadari, perasaan yang awalnya netral berubah menjadi cinta yang dalam.
Persahabatan itu pun tumbuh menjadi hubungan asmara yang harus menghadapi perbedaan budaya, jarak, dan masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh. Namun justru dari perbedaan itulah Briella dan Jose belajar tentang pengertian, kesabaran, dan arti pulang bagi satu sama lain.
Dari sebuah kelas bahasa di Jakarta, cinta lintas negara itu akhirnya membawa mereka pada satu keputusan besar: melangkah bersama, mengikat janji, dan membangun masa depan sebagai pasangan suami istri—membuktikan bahwa cinta bisa menemukan jalannya, sejauh apa pun jarak dan perbedaan yang memisahkan.
[Bahasa Inggris]
Gabriella Michelle Sanjaya, known as Briella, a 29-year-old accountant from Samarinda now living and working in Jakarta, never imagined that taking a French class would change her life. Initially, she joined the class solely for work purposes. But in that modest classroom, fate brought her together with Jose Martino de Santos Fernandez, a 32-year-old architect from Madrid, Spain, who had come to Jakarta to mend a broken heart.
Jose had just been left by his former girlfriend, an Argentine woman who chose to marry another man because she no longer loved him. His disappointment worried his parents, who feared he might remain alone forever. To recover and escape memories of the past, Jose decided to go to Jakarta and enroll in a French course—a language he needed for an international architectural project.
Briella and Jose’s first encounter was nothing more than two strangers sharing the same class. They started talking because of group assignments and soon communicated more often in English, the language they both spoke fluently. From casual discussions about French grammar, their interaction grew into a warm friendship. Briella patiently taught Jose Indonesian, while Jose enthusiastically introduced Briella to the Spanish language and culture.
Their days were filled with language lessons, laughter over mispronunciations, and sharing life stories. For Jose, Briella earnestly began learning Spanish, watching telenovelas, practicing on YouTube, and using language apps to connect more deeply to his world. Unnoticed, her initially neutral feelings blossomed into a deep love.
Their friendship gradually evolved into a romantic relationship, one that had to navigate cultural differences, distance, and unresolved pasts. Yet, it was precisely these differences that taught Briella and Jose understanding, patience, and the true meaning of “home” for each other.
From a simple language class in Jakarta, this cross-cultural love story led them to a life-changing decision: to move forward together, make a commitment, and build a future as a married couple—proving that love can find its way, no matter the distance or differences that separate two hearts.
Komentar
Posting Komentar