Hujan selalu menjadi masalah kecil bagi Gadis Imelda.
Sebagai wanita karier yang sibuk, hari-harinya dipenuhi rapat, pekerjaan, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di tengah kesibukan itu, ada satu hal kecil yang hampir selalu ia lupakan—membawa payung.
Dan entah mengapa, setiap kali ia lupa, hujan selalu turun.
Sore itu pun sama. Awan gelap tiba-tiba berkumpul di langit, dan sebelum Gadis sempat mencapai halte bus, hujan turun deras.
“Aduh lagi-lagi,” gumamnya sambil menutupi kepalanya dengan tas, meskipun ia tahu itu tidak banyak membantu.
Saat ia hampir berlari menerobos hujan, sebuah bayangan muncul di sampingnya.
Sebuah payung terbuka di atas kepalanya.
Gadis mendongak dengan terkejut.
Di sampingnya berdiri seorang pria tinggi dengan wajah tenang dan mata hangat. Penampilannya rapi, auranya tampan dan berwibawa, tetapi senyumnya terasa ramah.
“Kamu lupa bawa payung lagi?” tanyanya ringan.
Gadis mengerjap bingung. “Lagi?”
Pria itu tersenyum. “Saya sudah beberapa kali melihat kamu di sini saat hujan.”
Ia menyerahkan payung itu kepada Gadis.
“Nama saya Alexander de Santos,” katanya. “Tapi biasanya dipanggil Alex.”
Gadis ragu sejenak sebelum menerima payung itu.
“Saya Gadis… Gadis Imelda.”
Hujan semakin deras, menimbulkan suara lembut di permukaan payung.
“Kenapa kamu bawa dua payung?” tanya Gadis akhirnya.
Alex menatap hujan dengan senyum kecil. “Karena saya suka hujan.”
“Itu tidak menjelaskan payung yang kedua.”
Alex mengangkat bahu pelan. “Mungkin suatu hari ada seseorang yang membutuhkannya.”
Gadis tertawa kecil. “Jadi kamu menunggu orang asing lupa bawa payung?”
“Kurang lebih begitu.”
Mereka berdiri bersama di bawah atap halte sementara hujan terus turun. Untuk pertama kalinya, Gadis merasa hujan tidak lagi begitu menyebalkan.
Mungkin karena kali ini ia tidak sendirian.
Sejak hari itu, setiap kali awan gelap mulai berkumpul, Gadis diam-diam melihat sekeliling halte.
Dan sering kali, Alex sudah berdiri di sana—membawa dua payung.
Satu untuk dirinya.
Dan satu lagi untuk wanita yang selalu lupa membawa payung.
Karena terkadang, cinta tidak datang dengan cara yang besar.
Kadang ia datang seperti payung saat hujan—diam, sederhana, dan hadir tepat ketika kita membutuhkannya.
[Bahasa Inggris]
Rain had always been an inconvenience for Gadis Imelda.
As a busy career woman, her days were filled with meetings, deadlines, and rushing from one place to another. In the middle of all that, there was one small thing she almost always forgot—an umbrella.
And somehow, it always rained.
That afternoon was no different. Dark clouds gathered quickly, and before Gadis could reach the bus stop, the rain began pouring down.
“Oh no… not again,” she muttered, holding her bag over her head in a hopeless attempt to stay dry.
Just as she was about to run through the rain, a shadow appeared beside her.
An umbrella opened above her head.
Gadis looked up in surprise.
Standing next to her was a tall man with a calm expression and warm eyes. His posture was neat, his presence confident yet gentle.
“You forgot your umbrella again?” he asked lightly.
Gadis blinked. “Again?”
The man smiled. “I’ve seen you here a few times when it rains.”
He handed her the umbrella.
“I’m Alexander de Santos,” he said. “But most people call me Alex.”
Gadis hesitated before taking it. “I’m Gadis… Gadis Imelda.”
The rain fell harder, tapping softly against the umbrella.
“Why do you carry two umbrellas?” Gadis finally asked.
Alex glanced at the rain with a quiet smile. “Because I like rain.”
“That doesn’t explain the second one.”
Alex shrugged slightly. “Maybe someday someone would need it.”
Gadis laughed softly. “So you just… wait for strangers to forget their umbrellas?”
“Something like that.”
They stood under the shelter together while the rain continued to pour. For the first time, Gadis realized the rain didn’t feel so annoying.
Maybe because she wasn’t standing in it alone.
From that day on, whenever rain clouds appeared, Gadis would secretly look around the bus stop.
And more often than not, Alex would be there—holding two umbrellas.
One for himself.
And one for the woman who always forgot hers.
Because sometimes love doesn’t arrive loudly.
Sometimes it simply appears like an umbrella on a rainy day—quiet, thoughtful, and exactly when you need it.
Komentar
Posting Komentar